Definisi Kurikulum Lengkap Beserta Sejarah, Fungsi dan Komponennya

Peran kurikulum dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan formal sangatlah penting. Tanpa kurikulum proses pembelajaran menjadi tidak terarah dan tidak dapat berjalan dengan semestinya. Karena peradaban manusia terus berubah, maka kurikulum pun ikut mengalami perubahan dari tahun ke tahun.

Sama pentingnya makanan bagi manusia, kurikulum pun menjadi perangkat pendidikan yang sangat penting. Kurikulum ini dibuat oleh pemerintah yang harus diterapkan di setiap sekolah sejak paud hingga ke perguruan tinggi.

Definisi Kurikulum

Kata kurikulum berasal dari bahasa Inggris “curriculum” yang diadaptasi dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang memiliki arti pelari, dan “curere” yang berpengertian sebagai tempat berpacu.

Jika diartikan ke dalam pendidikan, istilah ini memiliki arti “beragam mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik hingga akhirnya bisa mendapatkan sebuah ijazah”

Secara umum kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang terdiri dari dari suatu program yang berisi rancangan pelajaran bagi peserta didik dalam satu periode. Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa kurikulum merupakan perangkat mata pelajaran yang dibuat untuk mengarahkan proses pembelajaran agar dapat berjalan dengan baik.

Sejarah Kurikulum di Indonesia

Sejak hadirnya kurikulum di Indonesia, tentunya proses pembelajaran menjadi semakin terstruktur. Tapi tetap saja kurikulum selalu mengalami perubahan, yang dimana tujuannya sebagai upaya penyempurna pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga sekarang ini, ada 10 kurikulum pendidikan yang pernah diterapkan di Indonesia, yaitu sebagai berikut.

Kurikulum 1947, “Rentjana Pelajaran 1947”

Kurikulum pertama yang menggunakan istilah dalam bahasa Belanda “leer plan” yang artinya rencana pelajaran. Pada saat itu sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang masih sangat mempengaruhi pendidikan Indonesia.

Kurikulum ini tidak mengutamakan pendidikan pikiran melainkan pendidikan watak dan kesadaran bagaimana cara bernegara dan bermasyarakat dengan baik.

Kurikulum 1952 “Rentjana Pelajaran Terurai 1952”

Kurikulum ini sebenarnya merupakan penyempurna dari kurikulum sebelumnya. Di program pendidikan ini telah mengarah kepada sistem pendidikan nasional dan juga menghubungkan kehidupan sehari-hari.

Kurikulum 1964, “Rentjana Pendidikan 1964”

Isi kurikulum 1964 ini, pemerintah ingin agar rakyatnya mendapatkan pengetahuan akademik agar bisa dijadikan bekal pada jenjang SD, sehingga terbentuknya program Pancawardhana 4, yaitu pengembangan moral, pengembangan kecerdasan, pengembangan emosional, dan pengembangan jasmani.

Kurikulum 1968

Dilihat dari tujuan kurikulum 1968 ini, pendidikan lebih ditekankan agar membentuk manusia pancasila sejati kuat, sehat jasmani, budi pekerti, moral, dan tentunya keyakinan beragama. Kurikulum 1968 mengubah Pancawardhana menjadi program pembinaan jiwa pancasila.

Kurikulum 1975

Menekankan pada tujuan agar pendidikan akan jauh lebih efektif dan efisien merupakan bentuk dari kurikulum 1975. Terbentuknya kurikulum ini berasal dari pengaruh konsep bidang manajemen yaitu MBO yang merupakan kepanjangan dari Management by Objective. Kurikulum ini dulunya mendapatkan banyak kritikan karena guru dibuat sibuk menulis semua rincian kegiatan pembelajaran.

Kurikulum 1984, “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”

Cara Belajar Siswa Aktif atau yang biasa dikenal dengan CBSA atau Student Active Learning (SAL) adalah model pendidikan yang digunakan pada kurikulum 1984, dimana siswa ditujukan sebagai subjek belajar dengan fokus kepada mengamati sesuatu hal, mengelompokkan, mendiskusikan dan melaporkan.

Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999

Kurikulum 1994 juga mendapatkan banyak kritikan lantaran beban siswa dinilai terlalu berat, mulai dari muatan nasional hingga muatan lokal. Hingga pada akhirnya kejatuhan rezim Soeharto pada tahun 1998 membuat hadirnya Suplemen Kurikulum 1999.

Kurikulum 2004, KBK atau Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum yang disebut juga dengan KBK atau Kurikulum Berbasis Kompetensi) merupakan program pendidikan berbasis kompetensi yang mengandung 3 unsur penting yaitu pemilihan kompetensi sesuai spesifikasi indikator-indikator evaluasi sebagai penentu keberhasilan pencapaian kompetensi dan pengembangan pembelajaran.

Kurikulum 2006, “KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)”

Pada dasarnya kurikulum 2006 hampir sama dengan kurikulum 2004, hanya saja terdapat perbedaan yang menonjol pada kewenangan dalam penyusunan kurikulumnya yaitu lebih mengacu pada jiwa desentralisasi pendidikan. Di dalam sekolah guru diwajibkan agar mampu mengembangkan bentuk silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah.

Kurikulum 2013

Kurikulum yang masih diterapkan hingga kini sebenarnya pernah diujicobakan pada tahun 2004 (curriculum based competency). Kurikulum 2013 adalah program pendidikan Indonesia berbasis kompetensi yang fokus terhadap pemerolehan kompetensi-kompetensi tertentu oleh siswa.

Tema dari kurikulum 2013 yaitu pemerintah berharap agar peserta didik dapat menjadi masyarakat yang kreatif, produktif, inovatif, dan terampil.

Kurikulum Darurat Pandemi Covid-19

Kurikulum darurat ini sebetulnya bukanlah kurikulum baru. Namun kurikulum ini merupakan hasil penyederhanaan dari Kurikulum 2013 yang sudah berlaku sebelumnya. Hal ini dilakukan dalam rangka menyikapi kondisi pandemi Covid-19.

Pada masa darurat Covid-19 ini, Kementerian Pendidikan mempersilakan sekolah untuk memakai Kurikulum 2013 seperti biasa, kurikulum mandiri dalam rangka pembelajaran jarak jauh, atau kurikulum darurat ini.

Tujuan Kurikulum

Tujuan utama dari dibentuknya kurikulum adalah agar peserta didik dapat mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi dan warga Negara yang kreatif, inovatif, beriman dan dapat berbaur dengan lingkungan masyarakat kelak.

Dengan adanya kurikulum ini, peserta didik diharapkan dapat berkontribusi secara positif di kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Fungsi Kurikulum

Jika dilihat secara luas fungsi kurikulum adalah untuk mencapai tujuan pendidikan.  Fungi kurikulum ini dibagi menjadi 4 kelompok yaitu:

  1. Fungsi kurikulum untuk peserta didik. Sebagai sarana pengukur kemampuan diri dan konsumsi pendidikan.
  2. Fungsi kurikulum untuk pendidik. Sebagai pedoman penerapan mengajar sehingga para guru dapat mengajar mengikuti struktur yang telah dibuat.
  3. Fungsi kurikulum untuk orang tua. Kurikulum membantu orang tua agar dapat mengetahui bagaimana cara menuntun dan memberikan pengajaran kepada anak serta menjadikan orang tua lebih tau apa saja yang didapatkan anaknya selama di sekolah.
  4. Fungsi kurikulum bagi sekolah dan dinas pendidikan. Untuk membantu menyeragamkan pengetahuan dalam suatu kelompok.

Komponen Kurikulum

Dalam praktiknya, komponen kurikulum ada lima yaitu sebagai berikut.

1. Tujuan Kurikulum

Melalui kurikulum ini, Negara dapat merumuskan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Seperti di Indonesia, tujuan pendidikan dasar dirumuskan sebagai fondasi dasar kecerdasan, pengetahuan, dan kepribadian.

Tujuan pendidikan menengah sebagai peningkatan kecerdasan dan tujuan pendidikan menengah kejuruan sebagai keterampilan agar dapat hidup mandiri dan mengikuti pendidikan sesuai dengan kejuruannya.

2. Materi Kurikulum

Ada beberapa kriteria dari materi yang ada di dalam kurikulum seperti, pengetahuan ilmiah yang dapat diuji kebenarannya, cerminan dari kenyataan nasional, dan penunjang tercapainya tujuan pendidikan.

3. Strategi Pembelajaran

Untuk mencapai tujuan pendidikan pastinya membutuhkan sebuah strategi. Setiap negara tentu menerapkan strategi yang mungkin akan berbeda dengan negara lain tergantung dari sumber daya alam dan manusia serta beberapa faktor lainnya.

4. Organisasi Kurikulum

Melihat banyaknya perbedaan pandangan para ahli mengenai kurikulum, membuat munculnya keberagaman dalam mengorganisasikan kurikulum tersebut. Keberagaman ini terbagi menjadi enam yaitu mata pelajaran terpisah, mata pelajaran berkorelasi, program yang berpusat pada anak, inti masalah, bidang studi, dan eclectic program.

5. Evaluasi

Evaluasi di sini berfungsi sebagai peninjau apakah kurikulum yang tengah diterapkan dapat berfungsi secara efektif dan mampu mencapai tujuan pendidikan atau sebaliknya.

Demikian penjelasan mengenai kurikulum yang bisa kami bagikan. Perbedaan pendapat tentang kurikulum tidak mengubah inti dan pokok dari kurikulum pendidikan di Indonesia yang sebagai upaya untuk mencapai tujuan pendidikan.

Leave a Comment