11 Kesalahan Berpikir yang Sebaiknya Tidak Dilakukan

Pernah enggak kamu merasa kesal, kok ada orang yang sebegitu ngototnya mempertahankan pendapat? Padahal kalau ditilik argumentasinya lemah bahkan konyol banget. Nah, mungkin dia terjebak pada kesalahan berpikir.

Tentu sebelum menghakimi orang lain memiliki kesalahan berpikir atau kesalahan argumentasi, kamu mesti mengetahui apa saja kesalahan berpikir itu. Apa saja kesalahan dari basis argumentasi yang dibangunnya.

Semua pelaku kesalahan berpikir selalu menyandarkan argumentasinya pada hal-hal yang kurang logis. Sistematika berpikirnya tidak terbangun dengan baik, sehingga kesimpulan argumentasinya tidak tepat.

Untuk itulah sebagai pelajar, mahasiswa, atau pemuda yang terpelajar, kamu mesti menghindari berbagai macam kesalahan berpikir. Jangan sampai kamu ngotot mempertahankan pendapat, padahal itu tidak dibangun dengan landasan yang kuat.

Nah, apa sajakah kesalahan berpikir itu? Mari kita simak.

1. Argumentum ad hominem

Argumentum ad hominem merupakan kesalahan berpikir yang tampaknya sering dilakukan terutama di Indonesia. Kesalahan berpikir ini merupakan sebuah argumentasi untuk menyangkal pendapat orang lain dengan cara menyerang personalnya.

Misalnya kamu mengajukan pendapat bahwa sebaiknya rapat OSIS ditiadakan karena sesuai anjuran pemerintah, saat pandemi tidak diperbolehkan ada kerumunan. Namun salah satu peserta rapat menyanggahnya dengan pendapat bahwa kamu ada jadwal futsal sehingga tidak mau rapat.

Katakanlah kamu memiliki jadwal futsal, tapi menyanggah tentang pendapat tidak boleh melakukan rapat karena ada larangan kerumunan dengan jadwal pribadi kamu tentu tidak elok. Ini disebut sebagai argumentum ad hominem.

2. Argumentum ad populum

Argumentum ad populum merupakan sebuah kesalahan berpikir yang menegasikan pendapat karena pendapat tersebut bertentangan dengan pendapat lain yang lebih banyak.

Contoh kasus yang aktual adalah memakai masker agar terhindar dari virus dan tidak pula menularkan virus pada orang lain. Namun salah satu temanmu tidak mau memakainya, dengan alasan banyak orang yang tidak memakainya dan sehat-sehat saja.

Di luaran sana memang banyak yang tak memakai masker. Tapi bukan berarti banyaknya orang yang tidak memakai masker dan tetap sehat menjadi alasan penggugur dari argumen awal bahwa memakai masker lebih aman dari virus.

3. Appeal to authority

Appeal to authority ini mirip dengan kesalahan berpikir diatas. Namun pendapat yang diajukan berbasis pangkat, jabatan, kedudukan, keilmuan, maupun status sosial. Kesalahan berpikir ini sering juga terjadi di ruang publik.

Misalnya ada seorang menteri kesehatan yang menyebut bahwa virus yang menyebar di China tidak berbahaya. Sehingga ia tidak melakukan apapun untuk mencegahnya. Padahal pada saat yang bersamaan banyak korban akibat virus ini.

Nah, menteri tersebut melakukan kesalahan berpikir appeal to authority dengan jabatannya sebagai menteri kesehatan. Pokoknya karena dia menteri kesehatan, maka pendapatnya harus dipakai. Sehingga di lapangan penanganan virus tersebut terlambat akibat pendapat sang menteri.

4. Appeal to emotional

Appeal to emotional merupakan kesalahan berpikir akibat mengedepankan perasaan atau emosional daripada fakta, logika, maupun rasionalitas. Ini kerap terjadi pada fans artis, pengikut tokoh politik, maupun penganut paham tertentu.

Contoh sederhana adalah pelaku skema ponzi yang dikenal oleh masyarakat sebagai sosok yang agamis. Masyarakat menduga pasti polisi melakukan kesalahan, sebab tersangkanya merupakan sosok yang baik, berbudi, dan agamis.

Sementara fakta-fakta hasil penyelidikan polisi menyimpulkan bahwa tersangka merupakan pelaku skema ponzi dan telah menggelapkan uang dari ribuan nasabah. Sehingga totoal kerugiannya mencapai ratusan miliar. Tapi masyarakat tadi telah mengalami appeal to emotional.

5. Hasty generalization

Pernahkah kamu menemukan seseorang yang menolak untuk divaksin karena beranggapan bahwa si A tanpa vaksin juga sehat-sehat saja. Nah, orang tersebut sedang mengalami kesalahan berpikir yang disebut dengan hasty generalization.

Kesalahan berpikir ini terjadi karena salah mengambil basis argumentasi, atau fakta yang dimilikinya tidak kuat untuk membangun basis argumentasi tersebut. Seperti contohnya pada paragraf diatas. Ia hanya mengambil contoh si A saja.

6. Slippery slope

Slippery slop merupakan sebuah basis argumentasi yang diambil berdasarkan rangkaian pernyataan yang sambung-menyambung cukup panjang. Contoh sederhananya adalah “kamu bisa kaya kalau menikah”.

Ya, memang ada yang mendapat kecukupan finansial setelah mereka menikah. Tapi ‘kaya’ dan ‘menikah’ bukanlah hubungan sebab-akibat secara langsung. Ada serangkaian peristiwa yang menyertai hubungan dua kata tersebut.

Misalnya begini, kamu menikah. Kemudian ternyata bapak mertuamu memberimu modal untuk membuka usaha. Usahamu ini pelan-pelan banyak pelanggannya karena kamu pandai mengelolanya. Dari usaha inilah kamu bisa kaya.

Kenapa slippery slope disebut kesalahan berpikir? Ya karena pada proses rangkaian pernyataan itu bisa jadi ada yang tidak berhubungan langsung. Sehingga antara ‘menikah’ dan ‘kaya’ pada kasus tersebut tidak terhubung secara relevan.

7. Post hoc ergo propter hoc

Ketika kamu gagal dalam sebuah ujian dan menyalahkan bolpoin hitam yang kamu pakai, maka kamu mengalami kesalahan berpikir yang disebut dengan Post hoc ergo propter hoc.

Kesalahan berpikir ini merupakan kesalahan membangun basis argumentasi akibat memakai hubungan sebab akibat yang tidak ada hubungannya. Ya, apa hubungannya gagal ujian dengan penggunaan bolpoin? Mungkin kamu saja yang kurang menguasai materinya.

8. False dicotomy

False dicotomy ini terjadi sejak pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2021. Saat itu sepertinya penduduk Indonesia terbelah menjadi dua. Sehingga ketika ada argumen yang menyangkal pendukung salah satu kubu, maka pasti dicap sebagai pendukung kubu lawan.

Ini merupakan kesalahan berpikir dimana di dunia ini dianggap hanya ada dua argumentasi yang berlawanan, tidak ada alternatif. Hanya ada hitam dan putih, gelap dan terang, dan seterusnya. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.

9. Strawman fallacy

Strawman jika diartikan adalah orang-orangan sawah. Ya, hanya sebuah boneka. Sehingga sebutan strawman fallacy merujuk pada sebuah kesalahan berpikir ketika pelakunya membuat argumentasi lain yang lebih mudah untuk dipatahkannya.

Misalnya ketika kamu diajak oleh temanmu untuk bermain sepakbola. Kamu berkata bahwa pada hari itu sedang ada janji yang tidak bisa ditinggal. Tapi temanmu malah berkata kalau kamu tak mau membela timnya.

Pada kasus ini temanmu melakukan strawman fallacy. Dimana ia membuat sebuah argumen buatan untuk mengalahkan argumenmu soal “janji yang tidak bisa ditinggal” itu.

10. Red herring

Red herring merupakan kesalahan berpikir dengan cara mengalihkan perhatian dari topik pembicaraan utama. Istilah ini diambil dari frase ‘ikan haring merah’ yang merupakan istilah untuk mengalihkan perhatian.

Kesalahan berpikir ini lebih sering terjadi karena sengaja. Pelakunya biasanya sadar melakukan hal tersebut agar bisa mengalihkan perhatian dari argumen utama. Ya, mirip strawman fallacy, tapi kali ini hanya menyajikan fakta-fakta lain sebagai poengalih perhatian yang tak ada hubungannya dengan argumentasi awal.

11. Burden of proof

Burden of proof merupakan kesalahan berpikir dengan cara memberikan argumen tapi orang lain yang diminta untuk membuktikan argumen tersebut. Kamu pernah mengalaminya?

Misalnya pada kasus flat earth. Banyak penganut paham bumi datar berdalih bahwa bumi ini memiliki batas di Antartika. Dan batas itu dijaga oleh pasukan khusus. Ketika kita tanya buktinya kepada mereka, malah mereka yang meminta kita untuk membuktikan omongan mereka soal pasukan khusus itu.

Itulah sebelas kesalahan berpikir yang sering dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita, atau bahkan kamu juga sering melakukannya namun tak sadar kalau itu kesalahan berpikir. Nah mulai sekarang, setelah tahu itu salah, jangan diulangi lagi ya.

1 thought on “11 Kesalahan Berpikir yang Sebaiknya Tidak Dilakukan”

Leave a Comment