Tahun Baru: Asal-Usul, Sejarah, dan Perkembangannya

Hai, sobat BelajarKeren.com, tentu sudah paham dengan tahun baru, dong? Ya, tahun baru merupakan sebuah awal dari sebuah bilangan waktu berjumlah 365 atau 366 hari. Bagaimana asal-usul, sejarah, dan perkembangannya? Yuk disimak sama-sama.

Tahun baru selalu diperingati pada tanggal 1 Januari setiap tahunnya. Namun perayaannya selalu diperingati pada malam 31 Desember tahun sebelumnya. Mengapa harus 1 Januari, dan paling mendasar sekali mengapa ada tahun baru?

Sejarah Tahun Baru

Tahun baru ini sudah diperingati oleh manusia selama berabad-abad. Namun yang perlu diketahui, dalam sejarahnya tahun baru tak selalu diperingati pada 1 Januari. menurut Encyclopedia Britannica, tahun baru pernah diperingati pada 25 Maret dan ada juga yang memperingatinya pada 25 Desember.

Perbedaan tanggal peringatan tahun baru itu disebabkan oleh terlepasnya beberapa negara jajahan Romawi. Sebelumnya kekaisaran di Italia itu mencengkeram cukup lama sampai menentukan agama dan penanggalan pada negara jajahannya.

Ketika Romawi runtuh, negara jajahan tersebut kembali ke asal-usulnya. Sehingga segala macam peninggalan Romawi dicampakkan begitu saja. Salah satunya penanggalan Romawi yang menyatakan bahwa 1 Januari sebagai tahun baru juga ditinggalkan.

Negara-negara tersebut menetapkan tahun baru berdasarkan keyakinan Kristen yang dianutnya. Ada yang menetapkan tahun baru pada 25 Maret yang berarti Pesta Pemberitaan Kabar Sukacita, dan adapula yang menetapkannya bersamaan dengan hari lahir Yesus, yakni 25 Desember.

Mengapa Tahun Baru Diperingati 1 Januari?

Penanggalan yang dipakai sekarang berasal dari penanggalan Romawi yang menyebar di berbagai negara jajahan diatas. Pada masa pemerintahan Raja Romawi Numa Pompilius pada sekitar 715-673 SM, penanggalan yang menyebut Januari sebagai bulan pertama ditetapkan.

Sebelumnya, bulan Maret merupakan awal tahun. Namun oleh Raja Numa, diganti dengan Januari. Nama Januari sendiri berasal dari nama dewa, yakni dewa Janus. Nama ini berarti segala permulaan. Nama yang tepat dibandingkan dengan asal kata Maret, yang diambil dari Mars, sang dewa perang.

Penanggalan itu tetap dipakai hingga pemerintahan Julius Caesar pada tahun 46 SM. Meskipun ada beberapa perubahan, termasuk mengubah 1 Januari sebagai tahun baru, namun invasi Julius Caesar ke negara-negara lain membawa serta penanggalan tersebut. Sehingga penanggalan ini dikenal dengan nama kalender Julian.

Kalender Julian, disamping juga tetap mengesampingkan 1 Januari sebagai tahun baru, juga memiliki kelemahan pada perhitungan tahun kabisat. Sehingga beberapa kali kalender ini salah dalam perhitungan musim dan juga tanggal Paskah. Hal ini terjadi dalam beberapa abad.

Barulah pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII mengenalkan revisi terhadap kalender Julian. Paus juga mengembalikan posisi 1 Januari sebagai awal tahun baru.

Revisi tersebut kemudian langsung diterima oleh banyak negara, seperti Italia, Perancis, dan Spanyol. Negara-negara yang penduduknya banyak menganut Kristen Protestan cukup lambat menerima revisi penanggalan ini. Inggris dan Amerika Serikat termasuk salah dua diantaranya. Mereka masih memakai tahun baru di tanggal 25 Maret.

Akulturasi Tahun Baru Gregorian dan Agama Lokal

Sama seperti Inggris dan Amerika Serikat yang tidak langsung menerima kalender Gregorian itu, beberapa negara non-Kristen juga membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk menerimanya. Hal ini bisa dilihat dari negara-negara di Asia Barat dan Asia Timur.

Pada negara-negara Asia Barat yang mayoritas memeluk agama Islam, penanggalan yang dipakai masih penanggalan qomariyah. Hingga saat ini, penanggalan tersebut masih dipakai untuk menentukah hari raya dan peringatan tertentu. Tahun barunya pun diperingati setiap tanggal 1 Muharram.

Sama halnya dengan yang terjadi pada China. Negara terluas di Asia Timur ini memiliki penanggalan sendiri yang telah dipakai sejak zaman China kuno. Namun China lambat laun juga memakai kalender Gregorian tepatnya pada 1912.

Negara-negara Islam kemudian juga mengadopsi kalender Gregorian. Sama halnya dengan China, mereka melakukan pencetakan satu kalender yang berisi dengan dua hingga tiga penanggalan, yakni kalender Gregorian, kalender agama, dan kalender tradisional.

Yang sampai hari ini masih belum memakai kalender Gregorian adalah Ethiopia. Mereka memiliki penanggalan sendiri yang memiliki 13 bulan dalam satu tahun. Mereka memperingati perayaan tahun baru yang disebut Enkutatash pada bulan September.

Perayaan Tahun Baru

Sebagaimana diketahui, meskipun tahun baru jatuh pada 1 Januari setiap tahunnya, namun perayaannya justru dimulai pada malam hari sebelum masuk tanggal tersebut. Perayaan tahun baru dimulai pada 31 Desember malam.

Pada umumnya perayaan tahun baru diperingati dengan acara berkumpul dengan keluarga, kerabat, teman-teman, maupun temu warga di alun-alun. Aktivitasnya bermacam-macam, dan puncaknya adalah jelang pukul 00.00 dini hari pada 1 Januari.

Setiap negara memiliki ciri khas perayaannya masing-masing. Namu inti dari perayaan itu adalah harapan agar di tahun mendatang segala bisnis, rejeki, jabatan, kesehatan, dan lainnya lebih baik lagi.

Leave a Comment