Pengertian Vaksin, Sejarah dan Perkembangannya

Wabah penyakit, baik secara lokal, maupun secara global yang disebut dengan pandemi selalu memakan korban jiwa yang cukup masif. Namun penemuan vaksin kemudian membawa kabar baik bagi keberlangsungan umat manusia.

Pandemi Covid-19 yang dimulai pada November 2019 di Wuhan, China, hingga setahun berselang baru ditemukan vaksinnya. Berbagai negara berlomba-lomba mempercepat vaksinasi untuk segera menghentikan laju infeksi virus Corona ini.

Meski ada pro kontra dan menimbulkan kalangan anti-vaksin, namun penting untuk dicatat bahwa dunia setelah vaksin ternyata lebih baik. Penyakit baru selalu muncul dan dalam sejarahnya ada manusia-manusia cerdas di bidang medis menemukan pengobatannya. Inilah yang akan diulas BelajarKeren.com kali ini.

Pengertian Vaksin

Vaksin merupakan senyawa yang dimasukkan kedalam tubuh yang mengandung mikroba atau virus mati atau dilemahkan. Setiap vaksin menangkal satu penyakit tertentu. Vaksin berfungsi menguatkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit yang akan menginfeksi.

Pertanyaan yang kerap ditanyakan adalah mengapa vaksin yang berisi virus dimasukkan kedalam tubuh namun memiliki fungsi meningkatkan kekebalan tubuh? Jawabannya ada pada mekanisme kekebalan atau imunitas tubuh itu sendiri.

Vaksin membantu tubuh dalam memproduksi antibodi yang diperlukan. Misalnya pada kasus Covid-19. Vaksin corona virus yang berisi virus Corona yang dilemahkan akan membantu tubuh dalam memproduksi antibodi yang diperlukan meskipun orang tersebut belum terinfeksi.

Dalam produksi antibodi, tidak semua tubuh memang menerimanya dengan baik. Makanya pada sebagian kecil penerima vaksin ada yang mengalami demam yang cukup tinggi. Hal itu disebabkan tubuhnya dipaksa untuk memproduksi antibodi. Dan menurut para ahli medis hal ini wajar.

Tujuan utama pemberian vaksin adalah ketika virus asli mengifeksi tubuh, maka tubuh yang sudah diberi vaksin sudah siap dengan antibodi yang sudah terbentuk. Vaksinasi memang tidak terlihat efeknya secara langsung, sebab fungsinya lebih kepada pencegahan, bukan pengobatan.

Sejarah Vaksin

Banyak yang percaya vaksin sudah ditemukan dan vaksinasi sudah dilakukan sejak abad ke-17. Saat itu para biksu Buddha di China meminum bisa ular agar mereka terhindar dari gigitan ular berbisa di kemudian hari.

penemu vaksin edward jenner
Edward Jenner, penemu vaksin pertama. / Gambar: historic-uk.com

Vaksin modern kemudian diduga ditemukan oleh Edward Jenner pada 1796. Saat itu Edward menyuntikkan virus cacar sapi (cowpox) kepada seorang anak berusia 13 tahun. Anak ini kemudian diketahui memiliki kekebalan terhadap penyakit cacar (smallpox).

Percobaan Edward tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk vaksin pada 1798. Namun butuh dua abad untuk pengembangan vaksin tersebut. Sehingga baru pada 1979 vaksin tersebut bisa dipergunakan secara global dan dilakukan imunisasi masif untuk memberantas penyakit cacar. Sebelum adanya vaksinasi cacar, sekitar 300 juta orang telah meninggal dunia.

Nama lain di bidang vaksin adalah Louis Pasteur. Ia disebut-sebut menjadi penemu vaksin kolera pada 1897, vaksin pes atau sampar pada akhir abad 19, dan vaksin BCG untuk penyakit TBC pada tahun 1950. Kolera dan pes pernah menjadi pandemi sebelum vaksin ditemukan. Puluhan ribu hingga jutaan nyawa hilang akibat pandemi dua penyakit tersebut.

Nama-nama lainnya juga cukup banyak. Ada Alexander Glenny yang menemukan vaksin tetanus pada 1923. Emil von Behring penemu vaksin difteri pada 1890. Vaksin folio ditemukan oleh Jonas Salk pada tahun 1954. Dan masih banyak lagi.

Perkembangan Vaksin

Saat ini pembuatan vaksin memakai dua metode, yakni metode yang lama yakni dengan cara melemahkan virus atau memproduksi protein antigen dari virus. Cara ini diketahui masih menjadi yang paling banyak dipergunakan.

Kemudian metode yang dianggap lebih modern yang berawal dari semakin canggihnya bioteknologi membuat pembuatan vaksin lebih cepat. Pembuatan vaksin yang disebut next generation vaccine platform dikembangkan melalui rekayasa genetik. Pembuat vaksin menggunakan materi genetik seperti DNA dan RNA.

Pada metode pembuatan vaksin lewat rekayasa genetika tidak memakai virus sebagai patogen yang ingin dicegah, melainkan jenis virus lain yang didesain sebagai vektor pembawa penyakit yang sama. Cara ini diyakini mempercepat pembuatan vaksin.

Jadi jika dilihat dari metode pembuatannya, pembuatan vaksin terbagi menjadi dua, yakni cara konvensional dan cara modern. Namun jika dilihat dari bahan pembuatan vaksinnya, terbagi menjadi tiga, yakni dari virus asli yang dilemahkan atau dimatikan, dari protein virus tersebut, dan terakhir dari rekayasa materi genetis.

Leave a Comment